Tuesday, June 15, 2010

Warga Resahkan Melonjaknya Harga Jual Premium


*Ditingkat Pengecer, Harga Tembus Rp.10 ribu*

Politiksman.com-Lahat (15/06), Dampak dari kelangkaan dan susahnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis Premium (bensin.red) disejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Lahat, akibat sering di kuranginya jumlah pasokannya dari PT Pertamina, mulai berpengaruh bagi masyarakat. Baik itu di tingkat dalam kota, hingga ke pelosok sekalipun.

Terkhusus lagi di tingkat pengecer, pedagang di tingkat ini saat ini seolah-olah memanfaatkan kondisi yang ada, yaitu dengan cara sepihak menaikan harga jual eceran bensin sendiri. Dimana sebelumnya, pengecer menjual bensin untuk 1 liternya masih dalam harga Rp.5000 hingga paling mahal Rp.7000 di tingkat daerah yang jauh, saat ini harga jual yang ada adalah sekitar Rp.6500 hingga harga Rp.10000 di tingkat desa.

“Nah gilo nian kalo makini terus adonyo. Kami memang tepakso kondisinyo beli di eceran, karena kalo di SPBU selain lamo antri, kami juga idak biso nunggu lamo kareno gawean kami nak cepet. Tapi kalo kayakini ngajak rusak,” ungkap Fikri (26) Warga Kecamatan Mulak Ulu

Menurut dia, selama ini memang kalo membeli di tingkat eceran harganya lebih mahal dari di SPBU. Akan tetapi, selama ini masih dalam takaran normal. Namun, melihat kondisi seperti belakangan ini, dirinya sangat merasa kesulitan. Bukannya mau mencari untung, dengan tidak memakan waktu lama di jalan, malahan dirinya harus mengeluarkan biaya yang double.

Kondisi ini sendiri terlihat di kawasan Kecamatan Kota Agung beberapa waktu lalu, dimana di sana pedagang tingkat pengecer menjual bensin dengan ‘seenak perutnya’ sendiri. Rp 10000, konsumen mau atau tidak sama sekali dapat bensin. Mereka rata-rata mengaku alasan yang di kedepankan adalah karena sulitnya pasokan bensin di SPBU. Hal ini jelas ekali membuat sebagian besar masyarakat yang memang membutuhkan bensin di tingkat ecerannya ‘menjerit’.

“Usaha kami ini idak besak, caro bedagang kelilinglah pak. Kalo idak cepet makmano kami nak untung. Nah sekarang malah di tambah dengan kondisi seperti sekarang,” Katanya dengan nada kesal.

Kelangkaan dan kenaikan menggila ini bukan hanya di kawasan yang jauh dari pusat kota Lahat saja. Di tingkat kota saja, harga jual bensin saat ini sudah naik, dan jelas sudah tidak wajar lagi adanya. Seperti di kawasan Jl Mayor Ruslan, atau di kawasan Lapangan PJKA, dan di kawasan Sukaratu saja yang sebenarnya notabenenya masih dekat dengan SPBU, pengecer menjual bensin seharga Rp.6000 – Rp.7000/ liternya.

Lagi-lagi, alasan kosong dan sulitnya mendapatkan pasokan BBM dari SPBU di jadikan alasan pengecer dalam menaikan harga jual di pasarannya. “Kami ini bae beli di tangan keduo pak dari SPBUnyo. Modal kami jelas idak sama dengan sebelumnya. Masa kami harus tetap jual dengan harga lama, jelas kami rugi pak,” ungkap Brahim (40), pengecer di kawasan Mayor Ruslan.

Senada dengan Brahim, diungkapkan Mat Hamid (50), pengecer di kawasan Desa Muara Siban Kecamatan Pulau Pinang menegaskan, untuk memperoleh bensin dari SPBU saja, dirinya harus antri. Apalagi pihak SPBU saat ini sudah tidak melayani pengisian dengan menggunakan dirigen.

“Untuk dapat bensin ini, terkadang kami harus menyewa dan menggunakan motor sebagai pengganti dirigen. Kita mengambil bensin ini langsung dari kios (SPBU, red). Bahkan untuk memperolehnya kami cuma menunggu lama dan antri. Sehingga susahnya mendapatkan BBM tersebut, makanya kita naikan harga bensin dari hargo sebelumnyo,” katanya.

Susilawati (34) pengecer lainnya menegaskan, dirinya terpaksa menaikan harga lebih tinggi lantaran juga kesulitan mendapatkan bensin. “Tidak bisa gak dijual mahal, dapatkannya susah, untung-untung bisa dapat. kalau lagi antri kita terpaksa menggunakan motor sebagai pengganti dirigen. Bahkan dalam satu hari kita bisa memperoleh bensin lebih dari 30 liter,” tegasnya.

Oleh karena itu, baik Doni atau warga lainnya yang mengaku sudah sejak 2 minggu terakhir terpaksa mengeluarkan uang ekstra untuk mengisi bahan bakar motornya meminta agar semua pihak yang terkait mengambil kebijakan dan lanhkah tegas dalam menyikapi masalah ini.
“Biasanya dalam seminggu motor aku ini menghabiskan minyak sebanyak 10 liter yang aku beli seharga Rp.45 ribu. Tapi sekarang aku terpaksa mengeluarkan uang sekitar Rp.70 ribu perminggu, tolong kami ini pak, kepada pihak terkait untuk sesegera mengambil langkah bijak,” ucapnya.

Sementara terpisah, Kabag ekonomi Pemkab Lahat Asril Fauzi SE memang mengaku pihaknya tidak sama sekali terlibat mengenai masalah ini. Melainkan sepenuhnya menjadi kebijakan Pertamina selaku pihak yang memang berkewenangan. Hanya saja, di katakannya pihaknya tidak menutup kemungkinan akan berkoordinasi dengan Pertamina dan pihak terkait lainnya, khususnya demi mengontrol harga jual bensin di tingkat pengecer sekalipun kedepannya.

“Kita akan berusaha mempelajari dulu apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya ini bukan kewenangan kita, hanya saja akan kami usahakan semaksimal mungkin serta dalam waktu dekat ini akan segera mungkin mengkoordinasikan persoalan ini.” Tutur Asril ketika dimintai tanggapannya. (Tim/Firdaus*)

0 komentar:

Post a Comment

Komentar Pengunjung

ARSIP

PROFILE TOKOH

PUISI & SASTRA

OPINI

  • Kaca Benggala: Sumpah Palapa - Oleh: Agus Jabo Priyono*) Ibarat pepatah, sebagai sebuah bangsa kita sedang berlayar dengan perahu besar, melawan gelombang liar. Dikurung langit yang tla...
    14 years ago